Theories & Evaluation of the Importance in Perception of Self Individual

Theories & Evaluation of the Importance in Perception of Self Individual
Fikri Mubarok
Faculty of Psychology
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

In general, self in psychology has two meanings, the first is self is behavior and feeling of individual on him/herself. And the second, self is all psychological process that ruled behavior and adaptation. The first meaning self is looked as an object, in this way of meaning self is what an individual thinking about him/herself. The second meaning looks self as a process, Self is consist of many active process like thinking, remembering, learning, hearing, etc. both of this meanings is not purely a human in nature way. This theories of self isn’t something that is used if we looked in way of religion or methaphysist. It’s direct into object of psychological process itself, and that process was ruled by law of cause. In other words, this theories is used when we sees it in scientific psychology way. The theories of self shows a true effort to seek the symptoms and make conception from the research that has conducted about behavior of individual.


The self theories that we had speak is to make clear about the topics that we will talk about. If we seen the self theories in paragraph above, we will make a quick thinking about the perception of our self. How do we look our self is very important for us to make us more competent in many aspects. Example, how can men can cook if they keep thinking cook is only for woman ?, and how can we speak in front of many people when we keep thinking that we are lacks of intelligence in linguistics ?. it is why there are many success person that always have positive thinking in him/herself. If we perceiving about our self in negative ways, the result will be negative. ”you are what you thinking”, “you are what you eat”, and “you are what you read” is a popular phrase in psychology saying that human was evaluated by their behavior. In psychology, there are theories called by “Trait Theories”. Trait theories state that personality consist of broad, enduring dispositions that tend to lead to characteristics responses. In other words, people can be described in terms of basic ways they behave, such as wether they are outgoing and friendly or dominant and assertive. People’s behavior sometimes unpredictable, we can’t decide directly what people are do with our logical thinking. If we see someone crying, the first perception that we think to that people is he/she was sad. Except sad, people can crying because he/she was very happy, or he got dust in his/her eyes. So, we must make our self individual perception not by people’s eyes, but we make it on our own. By this way of thinking, there are many successful person was created. But the fact is, there are many people who still follow the trends of the world not selecting what is good and bad for him/herself.

If we talk about self individual perception, we must include the self -esteem theories from Abraham Maslow. Self-esteem is a person’s overall evaluation of his or her worth self-worth or self image. Maslow said that self-esteem is very important aspects in a human personality. Self esteem is strongly related to happiness, and it seems likely that self esteem can increases happiness. High-self esteem is a category that encompasses people who deserve their high self-esteem and are well adjusted, as well as individuals who are narcissistic, defensive, and conceited. Another theories from Abraham Maslow is Self Actualization, It is a theories that can’t be separated fro Maslow’s Hierarchy of Human Needs. Self Actualization is the highest and most elusive of Maslow’s needs, it is the motivation to develop one’s full potential as a human being. According to Maslow, self actualization is possible only after the other needs in the hierarchy are met. In the humanistic perspectives way, Psychologist said that the key of personality is that the way we perceive ourselves and the world around us. Humanistic psychologists also reminded us that we need to consider the whole person and the positive bent of human nature. But, this perspectives of psychology has some weakness that they are difficult to test. Self Actualization, for example, is not even clearly defined much less easy to observe.

Perception of self individual is an important thing that we must make and sees. In fact, there are still many people who believes that the process of finding identity was in teens in human development. If we evaluates the theories of self actualization and self esteem, we can conclude that perception of self individual was create in complex process. There are many factors that every people has different chances to perceive him/herself . but, the most important is, how can we make it better in perceiving our self in positives way, the results will be positives.

Referensi

Drs. Sumadi Suryabrata B.A., M.A., Ed.S., Ph.D., Psikologi Kepribadian, PT Raja Grafindo, Jakarta: 2006
John W. Santrock, Psychology : Updated Seventh Edition, McGrawhill International Edition, 2005.
Wade, Carole & Carol Tavris, Psychology 9thEdition, Pearson Education Inc, 2009.


Selengkapnya...

PERAN SERTA BPK DALAM MENGANTISIPASI KORUPSI

PERAN SERTA BPK DALAM MENGANTISIPASI KORUPSI
Enbun Ma’rufah
SMA Negeri 87 Jakarta

Pemerintahan di Indonesia sekarang sudah maju seiring dengan perkembangan zaman, selain itu peraturannya pun disesuaikan dengan kondisi masyarakat masa kini. Untuk menciptakan keamanan dan keadilan maka dibuatlah suatu hukum yang berdasarkan pancasila yang sekarang disebut perundang-undangan. Perundang- undangan tersebut menajabarkan segala peraturan yang harus dipatuhi oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali, apabila seseorang melanggar maka hukumlah yang akan memberikan sanksi. Akan tetapi pemberian hukum tidak dapat dilakukan oleh berbagai pihak, hanya lembaga-lembaga tetentu saja yang dapat menjatuhkan hukuman bagi seseorang yang melanggar peraturan.Pelanggaran yang banyak terjadi pada pemeritahan saat ini yaitu korupsi. Korupsi sedang menajadi suatu gejala yang sulit dicegah, karena pencegahan korupsi hanya dapat dihilangkan bila setiap orang menyadari akibat yang akan terjadi bila melakukan hal tercela tersebut. Tetapi pada kenyataan yang terlihat korupsi hanyalah perbuatan yang biasa bagi beberapa orang dalam instansi pemerintahan. Padahal pada hakikatnya uang tersebut berasal dari rakyat dan uangnya pun digunakan untuk kesejahteraan rakyat.

Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan perundang-undangan mengenai pihak yang mengawasi keuangan yang terdapat pada pasal 23 ayat (5) UUD Tahun 1945 menetapkan bahwa untuk memeriksa tanggung jawab tentang Keuangan Negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Hasil pemeriksaan itu disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Untuk lebih memantapkan tugas BPK RI, ketentuan yang mengatur BPK RI dalam UUD Tahun 1945 telah diamandemen. Sebelum amandemen BPK RI hanya diatur dalam satu ayat (pasal 23 ayat 5) kemudian dalam Perubahan Ketiga UUD 1945 dikembangkan menjadi satu bab tersendiri (Bab VIII A) dengan tiga pasal (23E, 23F, dan 23G) dan tujuh ayat. Untuk menunjang tugasnya, BPK RI didukung dengan seperangkat Undang-Undang di bidang Keuangan Negara, yaitu;

  1. UU No.17 Tahun 2003 Tentang keuangan Negara
  2. UU No.1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara
  3. UU No. 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara

Dalam perundang-undangan tersebut memang dinyatakan bahwa BPK adalah satu-satunya instansi yang memeriksa keuangan negara. Namun, kenyataan yang terjadi sekarang adalah BPK yang seharusnya menjadi pemeriksa keuangan, kini semata-mata dijadikan sebagai formalitas. Kenyataan tersebut telah menyalahi perundang-undangan, yang samestinya dilakukan oleh BPK untuk memeriksa dan bertanggung jawab sepenuhnya mengenai keuangan negara.
Permasalahan yang timbul adalah ketika BPK menetapkan bahwa dalam suatu penyelewengan terdapat tindak pidana padahal yang dapat memutuskan adanya suatu tindak pidana atau tidak adalah KPK dan kejaksaan agung. Hal ini membuat BPK yang seharusnya dapat menyelesaikan suatu permasalahan secara mandiri menjadi kurang efektif, karena tugasnya dibagi oleh KPK dan kejaksaan agung. Permasalahan BPK juga dikarenakan audit keuangan yang tidak kunjung selesai membuat DPR menunggu lama dan kurang kepercayaan kepada BPK, hal tersebut dikarenakan faktor-faktor audit yang sistemik dan pencarian data yang membutuhkan waktu yang sangat banyak.
Selengkapnya...

Amerika Mempunyai Senjata Penghancur Dunia

Amerika Mempunyai Senjata Penghancur Dunia !!!
Disadur dari postingan Ricky Ramadhani Mulyana, dalam blog ramadhaniricky.blogspot.com, yg di kutip dari thenoock.com


Ketika membaca artikel di surat kabar mengenai klaim Rusia yang mengatakan bahwa mereka sudah mampu mengendalikan cuaca (meskipun tidak lebih dari 30 menit), saya teringat novel karya John Grisham yang pernah saya baca mengenai pengendali cuaca. Inilah senjata pemusnah massal yang lebih biadab daripada nuklir.

orang pertama yang mengajukan gagasan bom atom pertama yang dipakai dalam meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Kemudian untuk membalas jasa Albert Einstein, Amerika memberikan hadiah nobel dan mengharumkan nama Albert Einstein dengan teori relativitasnya. Kemudian setelah perang dunia II berakhir, Amerika dan Uni Soviet menjadi saingan abadi dalam hal pengembangan teknologi senjata, hingga berujung pada perang dingin. Setelah Uni Soviet pecah, persaingan 2 negara raksasa ini redup. Yang kebanyakan didengar publik hanyalah bagaimana 2 negara ini mati-matian menentang pengembangan teknologi nuklir. Tidakkah anda mempunyai pertanyaan yang sama dengan saya, “Bagaiamana mungkin negara super power tidak mempunyai senjata pamungkasnya? Apakah mereka mati-matian menentang nuklir karena mereka benar-benar takut? Tidak mungkin! Ini Amerika, bung!”

Senjata biadab ini adalah senjata pengendali cuaca.
Mungkin ada yang masih bingung, bagaimana mungkin bermain-main dengan hujan-panas-salju-semi bisa menjadi senjata pamungkas? Kan kalau musim salju, tinggal pakai jaket, beres?! Nah! Bayangkanlah jika suatu negara mampu mengendalikan dimana akan terjadi badai, hujan, tsunami, bahkan kekeringan. Semua negara akan tunduk pada mereka. Mereka mampu memonopoli devisa, menentukan negara mana yang penduduknya mati kekeringan, mana yang penduduknya mati kelaparan, mati karena gempa bumi, mana yang mati karena tsunami bahkan mana yang penduduknya mati karena tornado (bukan tidak mungkin di Indonesia akan terjadi tornado dengan alat ini). Bandingkanlah dengan nuklir, dampak dari nuklir membuat orang langsung mati, kemudian kalau ada yang masih hidup akan terkena bahaya radiasinya. Hanya itu, tidak ada yang namanya mati kelaparan, mati kekeringan, mati terhempas tornado, atau mati terkena tsunami.

”Perjanjian PBB Membuktikan Bahwa Pengendali Cuaca Nyata! Perjanjian PBB yang ditandatangani pada tanggal 10 Oktober 1976 adalah bentuk pengendalian PBB terhadap senjata biadab ini. Pada tahun 1975, Amerika adalah satu-satunya negara yang sebenarnya harus menandatangani perjanjian ini.

Sekarang, mari kita dengarkan pernyatan lebih lanjut Senator Clairborne Pell.

”Kami membutuhkan perjanjian itu sekarang untuk mencegah aksi-aksi seperti ini. Sebelum para pemimpin militer dunia mulai mengendalikan badai, memanipulasi cuaca dan memicu gempa bumi untuk melawan musuhnya. Ide dasar peperangan lingkungan ini sangat sederhana; jika suatu negara dapat mempelajari bagaimana cara memicu terjadinya bencana alam yang dapat mengakibatkan kerusakan parah terhadap musuh melalui hujan, banjir, gelombang pasang, gempa bumi, dan bahkan perubahan iklim yang dapat menghancurkan pertanian negara musuh”.

”Ini mungkin terkesan berkhayal untuk berpikir bahwa ide fiksi ilmiah seperti membuat gempa bumi, mencairkan es kutub, merubah alur arus air hangat laut, atau merubah cuaca di wilayah pertanian musuh. Tetapi dalam teknlogi militer, fiksi ilmiah dewasa ini merupakan strategi nyata masa depan. Selain kemungkian terjadi kengerian belaka, perang lingkungan tak terkendali, saya percaya ada alasan terpaksa mengapa hal ini harus dilarang. Sekarang kita mengetahui atau seharusnya mengetahui, bahwa tak ada negara yang dapat mempertahankan monopoli teknlogi perang baru. Jika kami dapat mengembangkan teknik perang cuaca, negara adikuasa lainnya pun dapat melakukannya. Pengalaman mengajarkan bahwa senjata yang membuat kami merasa aman kini akan membuat kami sangat tidak aman, dan tentunya ketika musuh kami memiliki kemampuan yang sama. Kini saatnya untuk beraksi hingga kami tak harus lagi mengkhawatirkan negara-negara saling mengirim badai.”, sambung Senator Clairborne Pell.

Secara ringkas, Pell mengatakan Senjata Cuaca menyebabkan bencana sebagai berikut:

Hujan - yang menyebabkan banjir-ingatkah Anda banjir yang belum pernah terjadi tahun 1993 di Timur-Tengah? Sesungguhnya, beberapa negara Timur Tengah telah dinyatakan Daerah Bencana tiga kali dalam lima tahun terakhir. Pertanian di sana pasti sudah sangat rusak.

Gelombang Pasang – Apakah Anda ingat Gelombang Tsunami besar yang mengenai Papua New Guniea pada 10 Juli 1998?

Gempa Bumi – Kemampuan seperti ini berarti bahwa ilmuwan dari tempat yang jauh pun dapat merekayasa terjadinya gempa bumi, kapanpun dan seberapa dahsyat yang mereka inginkan. Satu hal bagi mereka yang bertempat tinggal di daerah rawan gempa seperti California dan berpikir bahwa mereka “akan menjadi korban gempabumi” yang akan membunuh mereka. Akan tetapi masalahnya lain, tentu saja mereka yang bertempat tinggal di daerah rawan gempa dipahami bahwa mereka tinggal seolah-olah di ujung laras senjata pemburu! Tentunya “senapan” yang diarahkan ke arah mereka bukanlah senapan sewajarnya, akan tetapi senjata Pengendali Cuaca yang dapat membat gempa bumi kapanpun dan dimanapun mereka inginkan, dan seberapa dahsyat yang diingkannya.

Perubahan Iklim – yang dapat menghancurkan pertanian negara musuh” - Telah dijelaskan bahwa salah satu tindakan paling dahsyat yang dicantumkan di dalam Perjanjian PBB mengenai larangan menghancurkan “biota” sebuah negara. Kata “biota” mengacu pada “fauna dan flora bagian suatu daerah yang dianggap sebagai kesatuan ekologi”. Dengan kata lain, kemampuan Pengendali Cuaca ini dapat memusnahkan seluruh sistem ekologi! Pembeberan rahasia ini sangatlah mengejutkan! Jika tujuan para ilmuan memanfaatkan senjata cuaca ini adalah untuk membasmi peradaban, tampaknya mereka dengan mudah dapat melakukannya!

Karena kini kita telah mendengar kabar yang mengerikan dari Senator Pell, mari kita menguji berita lainnya yang mungkin dapat melihat kemampuan lain Perang Cuaca.

Artikel New York Times, 5 Juni 1977, memberitakan gempa bumi dahsyat yang menghancurkan Tangshan, Cina pada 28 Juli 1976 dan membunuh lebih dari 650,000 orang.

”Tepat sebelum getaran pertama pada pukul 03:42, langit terlihat seperti pada siang hari. Sebagian besar cahaya itu berwarna putih dan merah terlihat hingga 200 mil. Daun-daun di pohon terbakar dan sayuran hangus hanya di satu bagian, seperti terkena bola api. “

Beberapa penyelidik mempercayai bahwa efek elektrik ini berhubungan dengan elektromagnetik plasma dan bola kilat serta susunan cahaya aneh yang dihasilkan dari Tesla-styletechnology dan /atau transmisi sejenis lainnya.

Apakah gempa bumi ini hanya sebuah percobaan (dari) sistem yang dilakukan terhadap masyarakat Cina yang tidak mencurigakan? Gempa ini jelas tidak terlihat seperti bencana gempa bumi alami. Banyak ilmuan melaporkan melihat cahaya petir tak biasa dan bola cahaya, biasanya berwarna biru, yang juga terlihat di banyak bencana cuaca sebelumnya.

Permainan politik terkini, gempa bumi dahsyat menewaskan 650,000 orang, mungkin hanyalah sebuah peringatan dari Amerika Serikat untuk Cina, bahwa AS mengendalikan teknologi yang dapat memusnahkan negara Cina. Cina paham Amerika Serikat dapat menghancurkan negaranya tanpa perlu menginjakkan kaki di negaranya. Cina menyadari bahwa mereka tidak memiliki senjata untuk membalas serangan Senjata Cuaca ini. Tindakan seperti ini (akan) menghasilkan “Real-Politic” yang akan dibanggakan oleh Paman Sam.

Barisan awan spesifik kimiawi ini sedang dipengaruhi oleh dua buah perangkat gelombang radio. Ketika gelombang turun dari langit menghantam awan, terlihat awan pecah terpisah dengan sangat rapi; membuktikan bahwa sesuatu dari atas (selain dari pada angin) mempengaruhi wilayah tertentu di Cina.

Singkatnya, Senjata Cuaca ini adalah menyangkut energi. Badai manapun mengeluarkan sejumlah energi elektrik yang luar biasa, jadi ilmuan menemukan bahwa dengan mengirimkan energi elektrik dalam jumlah besar ke atmosfer, mereka dapat mengontrol cuaca, bahkan dapat mengarahkannya kemanapun yang mereka inginkan. Tetapi, kami akan membahas askpek ini dalam rincian teknik berikutnya.

“Pentagon & Kremlin Mempermainkan Cuaca Dan Memberi Kita Badai Dan Banjir”, oleh L. Ponte, Peneliti Pentagon, Star Magazine, Juli. 1982.

”Ponte mengakui bahwa Soviet telah menemukan kemajuan dalam menekukkan semua arus uap air penting yang melintasi Siberia untuk menetapkan pola angin global. Dengan menggunakan perangkat peledak dalam alat arus uap air, ilmuwan sedang mencoba memasukkan dan mengeluarkan dalam sebuah gelombang yang dapat menggantikan musim dingin yang kaku di Siberia dengan udara yang lebih ringan dari selatan”.

”Peneliti percaya bawha arus uap air dapat ditetapkan pada gelombang yang konstan/tetap. “Arus uap air dapat diubah untuk memusnahkan panen gandum di Midwest atau di belahan dunia manapun”, ucap Ponte. “Dengan kekuatan seperti ini, Siberia dapat berbunga dan seluruh dunia akan kekeringan.”

Pekerjaan yang mereka lakukan sangatlah serius, Ponte tidak dapat mengenyampingkannya fakta yang menyebabkan rekor musim dingin tahun lalu. Soviet juga mempertimbangkan untuk menggunakan perangkat untuk mengahancurkan dasar sungai untuk merubah arusnya. “Merubah arus akan membantu pencairan di Laut Arktik”, kata Ponte. “Dan pencairan kantong es dapat menyebabkan banjir di seluruh dunia dan merubah pola cuaca.”
Saya sudah bergaul hingga larut malam dengan Google, dan menemukan fakta yang fantastis. Amerika juga sementara ‘bermain’ dengan teknologi pengendali cuaca mereka. Tujuan pengembangan teknologi mereka diperhalus, sehingga relatif tidak tersentuh dengan perjanjian PBB mengenai pengendali cuaca. Pada situs resmi dari pengendali cuaca Amerika ini dikatakan bahwa tujuan dari program ini adalah untuk mempelajari sifat dan perilaku ionosfer, dengan penekanan khusus pada kemampuan untuk memahami dan menggunakannya untuk meningkatkan komunikasi dan sistem pengawasan baik untuk tujuan sipil dan pertahanan.

Amerika menamakannya HAARP!
Apa itu HAARP?
HAARP merupakan singkatan dari High Frequency Active Auroral Research Program. Jika diartikan mungkin kurang lebih adalah Program Penelitian Auroral Aktif Frekuensi Tinggi.
Mungkin dari namanya terlihat penekanan pada penelitian, tapi perlu dicatat, proyek ini tidak dibangun salah satu universitas Amerika yang berkompeten di bidang ini. Proyek ini didirikan dan dijalankan langsung oleh Angkatan Udara Amerika di Alaska.
Proyek ini mulai didirikan pada tahun 1990 dan masih berlangsung hingga sekarang. Jika pada tahun 1970-an Amerika mencoba mengendalikan cuaca dengan cara menembakkan ion ke atmosfer bumi lewat satelit mereka, kini mereka tinggal menembakkan ion langsung ke atmosfer langsung lewat bumi.

Selengkapnya...

Ekofeminisme

Menguak Persamaan Bentuk Opresi yang Dialami Oleh Alam dan Opresi pada Perempuan dari Sudut Pandang Ekofeminisme:
Alternatif Paradigma Berpikir Untuk Menyelamatkan Bumi dari Krisis Ekologi.

ANDY SETYAWAN
Production Managament, GLOBAL TV

A. Bumi & Krisis Ekologi
Telah banyak kita saksikan, hutan dipisahkan dari sungai, ladang dipisahkan dari hutan, ternak dipisahkan dari tanaman. Masing-masing kemudian dikembangkan secara terpisah, dan keseimbangan rumit yang menjamin keberlanjutan dan keseimbangan pun dihancurkan. Setiap pendidikan adalah semacam perjalanan ke dalam. Ekologi adalah pelajaran ke dalam tentang keseimbangan dan beberapa prinsip yang mengatur keseimbangan unsur-unsur yang sehat dalam lingkungan hidup global. Hal ini juga berlaku untuk keseimbangan kekuatan-kekuatan yang sehat pula dalam menyusun sistem politik kita.

Dalam sejarahnya, kita bisa belajar dan mendidik semua generasi tentang alam. Telah kita saksikan misalnya, letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa menjelang pertengahan 1815, letusan tersebut telah menelan korban puluhan ribu jiwa. Perubahan iklim dunia akibat letusan itu berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, karena debu yang diletuskan ke udara baru jatuh ke bumi setelah masa tiga tahun itu. Letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 juga cukup mengkhawatirkan. Meski dampaknya secara global tidak selama dan sehebat Gunung Tambora, tetapi letusan itu telah menyebabkan suhu bumi turun, sementara kenyataan peradaban manusia telah menyebabkan betapa suhu bumi telah meningkat dan juga telah mempercepat berkurangnya ozon.

Krisis ekologi, krisis bumi, dan krisis kemanusiaan berlangsung seolah tak berujung. Permasalahan ekologi global tidak bisa diperkirakan dari sudut negara tertentu. Bencana alam pada daerah tertentu berakibat pada alam seluruhnya. Atas dasar ini, dunia tidak dapat dikelola melalui proyek-proyek administrasi dan pengawasan terpusat yang konvensional. Peter F. Drucker menyebut kenyataan itu sebagai "tidak ada lagi keselamatan melalui masyarakat", dan David Korten menyebutnya "akhir dari negara dominan".

Dunia postmodern tampaknya menjadi fenomena kesalingtergantungan global yang merambah ke mana-mana, di bawah pengaruh perubahan yang tanpa disengaja. Kita dihadapkan pada akhir dari narasi besar universal, dengan ketidakmutlakan ilmu pengetahuan, dan dengan kematian masyarakat tertutup, yang semuanya bermula dari Descartes dan Bacon. Seperti dikatakan Drucker dan para peneliti yang lain, tidak ada kebenaran tunggal untuk menjawab masalah sosial tertentu. Sebagai pengganti proyek modern yang universal, kita menghadapi kemajemukan postmodernitas yang tidak dapat dipungkiri lagi dan agak mengancam karena tidak dapat dikontrol.

Bahaya dan krisis politik masyarakat modern yang bertumpu pada teknologi kini bersifat global. Bahaya itu terlihat pada penciptaan teknologi mandiri yang tidak terkendali, dan pada usaha-usaha yang menjadikan bumi sebagai arena berbagai eksperimen. Kecenderungan itu tidak mengarah pada terciptanya keadilan ekonomi dan keadilan sosial, tetapi malah meningkatkan ketidakstabilan ekologi, kekacauan, dan kekerasan.

Seluruh dunia kini sedang mengalami kekhawatiran global mengenai dampak global warming. Bencana alam yang tak henti-hentinya dan kekacauan iklim adalah gejala yang menunjukkan proses terjadinya global warming. Di beberapa tempat bahkan gejala ini terwujud dalam kondisi yang sangat ekstrim dan mengejutkan. Misalnya turunnya hujan salju di Afrika Selatan yang notabene negara ini adalah negara yang terletak di Benua bergurun dan kering. Di beberapa kota besar di Amerika bahkan ditemui asap tebal berwarna merah dan sangat mengganggu pernapasan, hal ini menunjukkan bahwa udara sudah penuh sesak akan polusi.

Di Indonesia sendiri dapat kita temui perubahan iklim yang sangat ekstrim, dimana musim kemarau lebih panjang dari musim penghujan, dan ketika musim hujan datang maka curah hujan sangat besar dan penyerapan tidak dapat mengimbangi jumlah air hujan yang turun sehingga tidak heran kalau terdapat banjir di mana mana, sedangkan pada musim kemarau terjadi kekeringan yang berkepanjangan. Selain itu, dengan melelehnya es di kutub menyebabkan pulau-pulau kecil terancam tenggalam, punahnya beberapa spesies tumbuhan dan hewan tertentu, serta banjir akibat naik pasang pada kota-kota pantai seperti Jakarta.

Karena begitu kuatnya dampak global warming pada kehidupan manusia, negara-negara dunia dibawah naungan PBB mengadakan konferensi tingkat tinggi tentang perubahan iklim yang dilaksanakan di Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007, dan kerena begitu alotnya perundingan yang ada didalamnya sampai konferensi ini pun diperpanjang. Perundingan yang berada di dalamya adalah seputar ratifikasi protokol Kyoto, dan perundingan ini tak jauh dari keputusan untuk mengurangi emisi karbon oleh perusahaan-perusahaan besar. Permasalahan ini bahkan dikabarkan dapat membawa dunia kedalam konflik, pasalnya Amerika Serikat sangat sulit untuk menurunkan emisi karbon ini karena sumber devisa terbesar Amerika adalah dari sector industri. Bahkan hingga sampai saat ini berbagai macam perundingan tentang perbaikan lingkungan tidak terlalu berimplikasi besar terhadap perbaikan lingkungan dan alam.

Sebagai contoh, pertemuan ke-11 Special Session of the UNEP Governing Council/Global Ministerial Environment Forum (GC-UNEP) yang di langsungkan di Nusa Dua, Bali awal tahun ini yang membahas tentang: kebijakan lingkungan internasional atau international environmental governance dan pembangunan berwawasan lingkungan (sustainable development), serta ekonomi hijau, ekosistem, dan keanekaragaman hayati (the green economy, biodiversity, and ecosystems). Namun dari pertemuan itu juga tidak menghasilkan dampak perubahan kebijakan yang cukup signifikan untuk menyelamatkan bumi. Pertemuan-pertemuan semacam ini dirasa tidak ada manfaatnya jika para kepala Negara belum memiliki pandangan untuk merubah pola pembangunan menjadi pembangunan yang tidak berpihak kepada pro-growth, namun juga pro-poor, pro-job, dan pro-environment.

Selama ini isu lingkungan tidak mendapatkan banyak perhatian karena terkalahkan oleh isu makro seperti politik, bisnis, sampai isu mikro yang merasuki pada tataran life style seperti konsumerisme dan hedonisme. Dalam bidang diplomasi dan advokasi, isu ini pun termasuk isu yang baru. Selama ini diplomat dan advokat lebih sering berkutat pada isu pertahanan keamanan yang menyangkut konflik dalam perang dan hak asasi manusia diluar konteks lingkungan, tidak heran kalau diplomasi dan advokasi lingkungan lebih banyak dikuasai oleh NGO lingkungan, karena mereka lebih fokus terhadap isu lingkungan seperti melakukan penelitian secara kontinyu, jaringan internasional, dan tidak memiliki peran ganda yang menyebabkan dilema. Dalam hal ini, maksud saya adalah bahwa negara memiliki dilema dalam pelestarian lingkungan. Negara adalah institusi yang memiliki kontribusi paling besar dalam destruktifikasi lingkungan. Negara-negara yang menempati kontribusi paling banyak dalam global warming antara lain adalah Amerika, China, dan Rusia. Disamping itu mereka harus memperhitungkan tentang pendapatan negara yang banyak mengandalkan pada sektor industri untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Kemajuan teknologi bersahabat dengan lingkungan yang digagas oleh para ilmuwan tidak terlepas dari kemajuan pengembangan senjata nuklir sebagai salah satu alternatif sumber energi alternatif ditengah-tengah krisis energi. Di samping itu kemajuan teknologi yang berorientasi lingkungan masih belum dapat diakses dan digunakan oleh masyarakat luas karena harga yang sangat mahal. Contohnya, mobil yang menggunakan mesin ramah lingkungan atau yang banyak disebut sebagai mobil v-tech harganya lebih dari pada harga standar. Ditengah-tengah kemiskinan yang melanda masyarakat, mereka pasti akan lebih memikirkan masalah perut dan financial dari pada masalah lingkungan sehingga mereka hanya akan menggunakan teknologi konvensional yang kurang ramah lingkungan.

B. Ekofeminisme
Ekofeminisme pertama kali diperkenalkan feminis Prancis, Francoise d'Eaubonne, pada 1974 lewat buku Le Feminisme ou La Mort. Melalui bukunya ini, Francoise d'Eaubonne menggugah kesadaran manusia, khususnya kaum perempuan untuk melakukan sebuah revolusi ekologis dalam menyelamatkan lingkungan hidup.

Ekofeminisme pada tataran ekologi berarti sebuah teori dan gerakan etika lingkungan yang ingin mendobrak etika pada umumnya, yakni bersifat antroposentrisme. Manusia adalah satu-satunya pertimbangan moral dan etis. Lebih jauh lagi, ekofeminisme mengkritik androsentrisme, yaitu teori etika lingkungan yang berpusat pada laki-laki. Karren J. Warren berpendapat logika konseptual androsentrisme yang menindas memiliki tiga ciri utama:

  1. pertama, berpikir tentang nilai secara hierarkis.
  2. Kedua, dualisme nilai, yang melakukan penilaian moral dalam kerangka dualistis (laki-laki dilawankan dengan perempuan, manusia vs alam).
  3. Ketiga, logika dominasi, yaitu struktur dan cara berfikir yang cenderung membenarkan dominasi dan subordinasi.

Ekofeminisme pada dasarnya merupakan varian yang relatif baru dari etika ekologis. Istilah ekofeminisme muncul pertama kali pada tahun 1974 dalam buku Francois d”Eaubonne yang berjudul “Le Feminisme ou la Mort”. Dalam karya ini ia mengungkapkan pandangan bahwa ada hubungan langsung antara opresi terhadap perempuan dan opresi terhadap alam. Ia mengklaim bahwa pembebasan merupakan salah satu dari keduanya tidak dapat terjadi secara terpisah dengan yang lain. Kareen J Warren menspesifikasi lebih jauh asumsi dasar dari ekofeminisme bahwa:

  1. Ada keterkaitan penting antara opresi terhadap alam dan opresi terhadap perempuan.
  2. Pemahaman terhadap alam dalam kaitan ini adalah penting untuk mendapatkan pemahaman yang memadai atas opresi terhadap perempuan dan opresi terhadap alam.
  3. Teori dan praktek feminis harus memasukkan perspektif ekologi.
  4. Pemecahan masalah ekologi harus menyertakan perspektif feminis.

Meskipun ekofeminisme setuju bahwa hubungan antara perempuan dengan alam adalah penyebab utama seksisme dan naturisme, mereka tidak bersepakat apakah hubungan perempuan dengan alam, pada dasarnya bersifat biologis atau psikologis, ataukah pada dasarnya bersifat sosiokultural. Mereka juga tidak sepakat tentang apakah perempuan harus menghilangkan, menekankan, atau membentuk kembali hubungannya dengan alam.

Menurut Ynestra king pengakuan hubungan antara perempuan dengan alam, dan posisi perempuan sebagai jembatan antara alam dan kebudayaan menghadirkan tiga arah kemungkinan feminisme. Arah pertama adalah memisahkan hubungan antara perempuan dengan alam, dengan secara mutlak mengintegrasikan perempuan ke dalam kebudayaan dan ranah produksi. Kedua adalah menegaskan kembali hubungan perempuan dengan alam, dengan mengajukan pendapat bahwa alam perempuan bukan saja berbeda, melainkan juga lebih baik dari budaya laki-laki. Yang ketiga cara dan isi ekofeminisme sejati ada dalam pemahaman tentang feminisme modern. Bahwa pada akhirnya semua bentuk opresi menusia berakar pada skema konseptual yang dikotomis yang menguntungkan salah satu dari dua hal (mis: laki-laki atas perempuan, alam atas kebudayaan, ilmu pengetahuan atas kekuatan supernatural).

Lebih jauh, ekofeminisme juga mengkritik ekosentrisme, khususnya deep ecology, karena kritiknya dianggap masih saja berpusat pada antroposentrisme sebagai sebab dari krisis ekologi. Padahal, lebih dalam dari itu adalah dominasi laki-laki atas alam sebagai sebab dari krisis ekologi. Bagi ekofeminisme, krisis ekologi tidak sekadar disebabkan oleh cara pandang dan perilaku yang antroposentris. Krisis ekologi sesungguhnya disebabkan oleh cara pandang dan perilaku yang androsentris: cara pandang dan perilaku yang mengutamakan dominasi, manipulasi, dan eksploitasi terhadap alam.

Ekofeminisme menawarkan cara pandang yang holistik, pluralistis, dan inklusif, yang lebih memungkinkan lelaki dan perempuan membangun relasi setara, untuk mencegah kekerasan, menentang perang, dan menjaga alam-lingkungan di mana mereka hidup. Kelebihan ekofeminisme bukan hanya karena ia mampu menerangkan latar belakang subordinasi perempuan, tetapi juga latar belakang kerusakan lingkungan hidup global. Ekofeminisme melihat masalah sosial, kultural, dan struktural yang berupa dominasi yang sangat kuat dalam relasi antar kelompok manusia (ras, etnik, negara, bangsa, agama, seks, gender) dan relasi antar manusia dengan alam-lingkungannya yang mengakibatkan banyaknya penderitaan bagi manusia itu sendiri, yang berupa perang maupun kehancuran lingkungan hidup.

Ekofeminisme menggambarkan betapa energi feminitas sangat berpotensi menjaga kelestarian lingkungan hidup, kelestarian planet Bumi, planet tempat kita (lelaki maupun perempuan) hidup. Ekofeminisme dengan sangat baik juga mampu menerangkan betapa hipermaskulinisme ternyata juga berperan pula terhadap kerusakan ekosistem. Akibatnya, ekofeminisme secara lebih kuat mampu menerangkan mengapa kesetaraan gender pada akhirnya bukan hanya menguntungkan kaum perempuan, tetapi juga kaum lelaki. Bila alam-lingkungan rusak, bukankah semua manusia, lelaki maupun perempuan pada akhirnya akan menderita?. Sebaliknya, bila alam-lingkungan lestari dan terjaga, bukankah manusia (lelaki dan perempuan) akan lebih sejahtera?, pria dan wanita dari setiap generasi harus berbagi bumi yang sama, satu-satunya bumi yang kita punyai dan karenanya kita memiliki tanggungjawab bersama untuk memastikan bahwa apa yang disebut satu generasi sebagai masa depan akan dapat tumbuh menjadi dewasa dengan aman.

C. Simone de Beauvoir
Ia mendorong perempuan untuk “mentransendensi” hubungan mereka dengan alam untuk melampaui status mereka sebagai liyan, atau jenis kelamin kelas dua. Beauvoir berspekulasi bahwa identitas perempuan sebagai liyan sebagian merupakan akibat dari fakta biologisnya terutama kapasitas biologisnya dan reproduksinya, dan sebagian adalah akibat dari tanggung jawab sosialnya atas pengasuhan anak. Beauvoir tidak memandang tubuh perempuan sebagai teman perempuan. Sebaliknya, ia memandang tubuh perempuan secara fundamental bersifat mengalienasi, dan menyemprot energi perempuan, sehingga perempuan menjadi terlalu kelelahan untuk dapat berpartisipasi dalam bentuk kreatifitas yang dinikmati laki-laki.

Berangkat dari Sartre Beauvoir menekankan bahwa laki-laki dan perempuan terperangkap dalam dialektika “Ada untuk dirinya sendiri” (pour-soi) dan “Ada di dalam dirinya sendiri” (en-soi). Ada untuk dirinya sendiri membangun Ada menjadi diri, yang secara sadar menyadari adanya kemungkinan untuk penciptaan diri yang ditawarkan oleh masa depan, ada di dalam dirinya mengkonstruksi ada sebagai liyan, sesuatu tanpa masa depan, dan karena itu tanpa adanya kemungkinan untuk transformasi apapun bentuk transformasi itu. Meskipun makhluk hidup adalah ada untuk dirinya, atau berkesadaran, kebudayaan barat cenderung untuk memandang bahwa hanya laki-laki yang sungguh-sungguh Ada untuk dirinya, sementara perempuan lebih dekat kepada Ada di dalam dirinya sendiri.

Beauvoir menyampaikan gagasannya bahwa perempuan akan menjadi manusia yang penuh seperti laki-laki, dengan bergabung dengan laki-laki dengan mengambil jarak dari dan dalam mentransendensi serta mengendalikan alam. Ia mempertentangkan transendensi laki-laki dan penaklukkan terhadap alam dengan imanensi perempuan, yang diidentifikasi dengan dan secara pasif larut dalam alam dan tubuhnya. “kemanusiaan yang penuh” yang akan diraih oleh perempuan, mengandung maksud menjadi bagian superior jiwa, mendominasi dan mentransendensi alam dan fisikalitas atau ketubuhan, kebebasan, dan keterkendalian yang dipertentangkan dengan keterlarutan dalam alam dan ketidakterkendalian yang buta. Perempuan menjadi “manusia secara penuh” dengan cara terserap dalam wilayah kebebasan dan transendensi maskulin yang terkonsepsialisasi dalam istilah-istilah chauvinis-manusia.

D. Perempuan & Gerakan Penyelamatan
Sebagai salah satu contoh gerakan yang pernah dilakukan perempuan, adalah Wangari Maathai dari Kenya yang kemudian mendapatkan hadiah Nobel dalam bidang ekologi. Hadiah itu diperoleh Wangari karena inisiatifnya dalam mempelopori gerakan penanaman pohon yang seluruhnya dikerjakan perempuan di Kenya. Namun, ekofeminisme tidak berkutat pada pembicaraan penyelamatan lingkungan hidup saja. Tidak hanya menanam pohon, keberhasilan ekofeminise serta merupakan cerminan dari seluruh kegiatan dalam merawat lingkungan, merawat anak, merawat suami, peduli terhadap tetangga, dan seterusnya.

Dalam sejarah Islam, bila kita melihat bagaimana pengelolaan lingkungan dan taman-taman di zaman keemasan Islam di Cordoba, Spanyol, tak lain merupakan refleksi dan penghargaan tinggi yang lintas batas kelamin dan mengutamakan kesetaraan gender (termasuk ekofeminisme) dalam pendidikan, guru, sastrawan, pencinta seni (keindahan), politik pemerintahan, dan lain-lain.

Semangat gerakan ekofeminisme (gerakan cinta lingkungan) menjadi salah satu jalan penyelamatan krisis ekologi yang juga memiliki legitimasi teologis. Dalam agama-agama (Islam rahmatan lil ‘alamin , cinta kasih dalam Kristiani, kasih sayang Sang Budha, dst) tak lain bagian integral dari semangat mencintai alam semesta. Karena spirit dari agama-agama sangat menghormati hak-hak kesetaraan dan keseimbangan lingkungan. Dari ekofeminisme, mempertimbangkan ide-ide dan semangat kaum hawa berupa kecintaan (penjagaan) alam dalam mengambil kebijakan dan langkah yang berkaitan orang banyak menjadi niscaya. Karena dalam semangat patriarkal, kebijakan publik yang kebanyakan dibuat oleh kaum adam malah acap kali lepas dari pertimbangan diri yang sensitif ekologi yang menjadi objek ekofeminisme.

Diharapkan dari sini, banjir di Solo beberapa waktu lalu, luapan air hujan dan banjir di sepanjang jalur transportasi darat pantai utara Jawa Tengah; Demak, Jepara, Kudus, Pati, dan Rembang yang menyebabkan kemacetan sampai 14 km, banjir tahunan di Jakarta, tragedi tanah longsor di ciwidei Bandung, retaknya tanggul Situ Gintung tidak terjadi atau tidak lebih parah lagi.

Berdasarkan perspektif teori-teori budaya, perilaku manusia tak lepas dari makna, pemahaman, dan pola pemikirannya tentang segala hal yang menyangkut perilaku tersebut. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa makna, pamahaman, dan pemikiran masyarakat tentang dunia tidak mengindahkan alam itu sendiri. Berdasarkan tradisi yang telah berkembang selama ini, suatu masalah hanya dipandang dari sudut pandang logika ilmiah yang mengedepankan brain trust dan think thanks. Di Negara maju seperti Amerika serikat, tradisi yang berkembang dalam pemerintahannya adalah berkonsultasi kepada para ahli atau ilmuan. Ilmuwan yang ahli di dalamnya seperti tidak dapat memiliki solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang berada dalam sistem pemerintahan tersebut, di mana sistem tersebut memiliki jaringan-jaringan yang sangat kompleks antar stakeholder yang terlibat di dalamnya. Selain itu, salah satu faktor yang melekat di dalamnya adalah bahwa para ahli tersebut menggunakan model-model konseptual yang kadaluarsa dan variabel-variabel yang tidak relevan, dan mayoritas dari para ilmuwan tersebut adalah laki-laki.

Dalam kerangka konsep ekofeminisme, manusia adalah bagian dari alam, alam sebagaimana seorang ibu, ia telah berjasa dalam memberikan kehidupan bagi manusia, oleh karena itu alam tidaklah untuk ditaklukkan, tetapi harus dilestarikan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Kehancuran alam ini merupakan transformasi budaya yang besar dan dalam, yang tidak dapat dicegah. Transformasi ini tidak dapat dilawan tetapi sebaliknya harus disambut sebagai satu-satunya pelarian penderitaan, kehancuran, dan kebekuan. Hal yang kita perlukan untuk mempersiapkan diri menghadapi transisi besar yang hampir kita hadapi ini adalah suatu pengujian kembali premis-premis dan nilai-nilai budaya kita, suatu model-model konseptual yang kehabisan daya gunanya, dan suatu penerimaan baru terhadap nilai-nilai yang telah ditinggalkan pada periode-periode sebelum sejarah kebudayaan kita.

Hanya dengan perilaku bersaing dan asgresif kehidupan tidak mungkin terjadi. Bahkan, orang-oarang yang paling ambisius dan berorientasi pada hasil sekalipun tetap memerlukan dukungan simpatik, hubungan manusia, dan saat-saat spontan, santai, dan bebas. Dalam kebudayaan, perempuan diharapkan , dan sering dipaksa memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini. Mereka menjadi sekretaris, resepsionis, hostes, perawat, dan ibu rumah tangga yang memberikan pelayanan agar kehidupan menjadi lebih nyaman agar orang-orang yang bersaing itu berhasil. Mereka menghibur para bos, membuatkan kopi untuk mereka, mereka membantu melunakkan konflik-konflik di kantor; mereka yang pertama menerima dan menjamu para tamu itu dengan obrolan ringan. Di kantor-kantor fisika, perempuan menyiapkan teh dan kue selama para laki-laki membicarakan teori-teori mereka. Semua pelayanan itu melibatkan aktivitas yin, atau aktivitas integrative, dan karena aktivitas-aktivitas semacam itu lebih rendah tingkatannya dalam sistem nilai kita dari pada aktivitas yang, atau aktivitas-aktivitas yang menonjolkan diri, maka orang-orang yang melakukan aktivitas tersebut dibayar lebih rendah. Bahkan banyak di antara mereka seperti para ibu dan istri tidak dibayar sama sekali.

Dari survei singkat terhadap sikap dan nilai budaya ini kita dapat melihat bahwa kebudayaan kita secara konsisten telah memajukan dan menghargai yang, elemen-elemen sifat dasar manusia yang cenderung maskulin dan menonjolkan diri, dan telah mengesampingkan yin, aspek-aspek feminine atau intuitifnya. Namun demikian, kita tengah menyaksikan permulaan atau gerakan evolusioner yang luar biasa. Titik balik yang hampir kita capai itu menandai suatu pembalikan dalam fluktuasi antara yin dan yang, sebagaimana kata-kata dalam naskah Can yang berubunyi “Yang setelah mencapai puncaknya, lalu mundur demi yin.” Dasawarsa 1960 dan 1970 telah melahirkan suatu rangkaian gerakan filsafat, spiritual, dan politik yang tampak menuju ke arah yang sama. Semua gerakan tersebut menghilangkan tekanan yang berlebihan pada sikap dan nilai yang, dan mencoba menetapkan kembali keseimbangan antara sisi maskulin dan feminine pada hakikat manusia.

Berdasarkan Pemaparan di atas terdapat suatu perhatian yang semakin besar pada ekologi, yang diungkapkan oleh gerakan-gerakan masyarakat meliputi persoalan-persoalan lingkungan hidup, yang menunjukkan batas-batas pertumbuhan yang mendukung ekologi baru dan mengembangkan teknologi lunak yang sesuai. Dalam arena politik gerakan antinuklir tengah berjuang melawan pertumbuhan berlebihan secara ekstrem dari teknologi “macho” yang menonjolkan diri, dan dalam perjuangannya gerakan ini tampak menjadi kekuatan politik yang paling kuat pada dasawarsa ini. Pada saat yang sama terdapat suatu permulaan perubahan signifikan dalam nilai-nilai—dari pemujaan pada perusahaan-perusahaan dan lembaga-lembaga raksasa ke pengertian “kecil itu indah”, dari konsumsi materi ke-kesederhanaan sukarela, dari pertumbuhan ekonomi ke pertumbuhan teknologi ke pertumbuhan dan perkembangan batin. Nilai baru ini tengah dikembangkan oleh gerakan “potensi manusia”, gerakan “kesehatan holistik”, dan berbagai gerakan spiritual lainnya. Barang kali yang paling penting adalah bahwa sistem nilai lama sedang ditantang dan diubah dengan luar biasa dengan munculnya kesadaran feminis yang berasal dari gerakan perempuan.

Bermacam-macam gerakan ini membentuk apa yang disebut oleh ahli sejarah budaya Theodore Roszak sebagai “sounter culture” (budaya tandingan). Sejauh ini banyak di antara mereka masih bekerja secara terpisah dan belum mengetahui sejauh mana tujuan mereka saling berkaitan. Dengan demikian, gerakan potensi manusia kurang memiliki suatu perspektif sosial, sementara gerakan kesehatan holistik kurang memiliki kesadaran ekologis, dengan guru dari Timur yang menampilkan lambang-lambang status kapitalis Barat dan menghabiskan banyak waktu untuk membangun kekaisaran-kekaisaran ekonomi mereka. Namun demikian, akhir-akhir ini beberapa gerakan telah membentuk berbagai koalisi. Sebagaimana yang diharapkan, gerakan ekologi dan gerakan feminis bergabung kekuatan dalam beberapa kelompok lingkungan, kelompok konsumen, dan gerakan pembebasan etnik mulai menjalin hubungan kerjasama. Kita bisa memperkirakan bahwa sekali gerakan-gerakan tersebut mengetahui persamaan-persamaan dalam tujuan mereka, semua gerakan itu akan mengalir bersama dan membetuk suatu kekuatan transformasi sosial yang kuat.

E. Relevansi Pemikiran Ekofeminisme di Indonesia
Indonesia sendiri sebenarnya memiliki konsep ekofeminisme yang sudah tertanam sejak lama yaitu dengan konsep ibu pertiwi. Konsep ini memberikan pandangan bahwa bumi tak dapat dimaknai sebagai seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi seluruh anaknya, yaitu seluruh manusia yang ada di atasnya. Bumi adalah tempat semua makhluk hidup berpijak dan bercongkolnya tanaman yang memiliki kontribusi yang paling mendasar dalam kehidupan manusia, baik sadar maupun tidak, semua kehidupan yang ada di muka bumi berawal dari konsumsi atas tanaman, tanaman memiliki kedudukan pertama dalam rantai makanan.

Gerakan ekofeminisme ini merupakan gerakan feminis yang terbaru dan muncul ketika gejala-gejala global warming mulai nampak. Gerakan ekofeminisme sendiri banyak dilakukan di Indonesia. Secara ideologis dan konseptual boleh jadi gerakan ini hanya dipahami secara mendalam oleh beberapa orang saja. Sesuai dengan konsep yang dijelaskan di atas, gerakan ekofeminisme adalah gerakan yang menyerukan untuk merubah mainstream hubungan antara manusia dengan alam, di mana manusia merupakan bagian dari alam sehingga manusia juga harus andil dalam melestarikan alam bukannya ditaklukkan sehingga kekuatannya semakin melemah yang akhirnya membunuh manusia itu sendiri.

Depertemen kehutanan sendiri bersama dengan organisasi perempuan mencanangkan program menanam pohon di setiap provinsi, yang merupakan aksi kepedulian terhadap lingkungan. Organisasi perempuan seperti PKK yang ada dihampir setiap kota juga ikut berpartisispasi dalam gerakan ini. Tak hanya gerakan menanam pohon, program peduli lingkungan seperti pengolahan sampah organik dan non-organik juga banyak di lakukan oleh para ibu rumah tangga. Misalnya dengan mengolah sampah organik menjadi kompos, atau pengolahan sampah anorganik seperti plastik bekas yang dijahit menjadi tas, tempat handphone, dan berbagai aksesoris lainnya.

Gerakan menanam sejumlah pohon ini dalam implementasinya memang kurang menyertakan keterkaitannya dengan isu gender, kekuasaan patriarki, dan sebagainya, jadi dapat dikatakan kalau gerakan ekofeminis yang marak dilakukan di Indonesia hanya sebatas pada pemahaman mengenai isu lingkungan itu sendiri, dan tidak pada tataran pengertian atau hakikat perempuan dalam mainstream. Gerakan ekofeminis di Indonesia yang seperti ini hanya dapat dilihat dari sisi perbaikan lingkungan saja, artinya tidak sampai mengusung pada isu gender, dan tidak dapat direpresentasikan sebagai gerakan untuk memperjuangkan identitas dan eksistensi perempuan itu sendiri di hadapan sistem patriarkal. Bahkan jika dilihat lebih mendalam lagi gerakan ini adalah salah satu wadah untuk menambah kegiatan perempuan khususnya para ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam organisasinya, tetapi sekali lagi tidak disertai dengan idealisme bernafaskan gender, hanya idealisme yang berkontribusi positif terhadap lingkungan.

Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Tanah kami subur tuhan
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja…
Mereka dirampas haknya
Terbusung dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami mengabdi…









Senarai Rujukan:

Andriana, Nina. Ekoveminisme. www.kompas.com. (diakses 1 Juni 2008).
Beauvoir, de Simon. 1952. The second sex. New York: Vintage Books.
Fritjof, Capra. 2004. Titik Balik Peradaban, penerjemah: M. Thoyibi (UMS), Bentang, Bandung.
Hooks bell. 1990. Yearning : Race, Gender, and cultural Politics. Boston: South End Press.
Lestari, Evy. Ekofaminisme dan Krisis Ekologi. www.wawasandigital.com
Nikita. Ekofeminisme dalam gerakan pelestarian lingkungan. www.wordpress.com.
Tong, Rosmarie Putnam. 2004. Feminist Thought. Jogjakarta: Jalasutra.
Selengkapnya...

AFTA in Indonesia 2010

AFTA in Indonesia 2010

ASEAN Free Trade Area (AFTA) is the ASEAN free trade area where there are no tariff barriers (import duties 0-5%) and non-tariff barriers for the member countries of ASEAN, the AFTA-CEPT scheme.

The AFTA agreement was signed on 28 January 1992 in Singapore. When the AFTA agreement was originally signed, ASEAN had six members, namely, Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore and Thailand. Vietnam joined in 1995, Laos and Myanmar in 1997 and Cambodia in 1999.

Common Effective Preferential Tariff Scheme (CEPT) is the stage of the program and the elimination of tariff reduction of non-tariff barriers mutually agreed by the ASEAN countries. So in the conduct of trade among members, operational costs can be reduced so profitable.

In the CEPT-AFTA scheme goods - items included in the tariff scheme is all manufactured products, including capital goods and processed agricultural products, and products that are not included in the definition of agricultural products. (Agricultural products are sensitive and highly sensitive excluded from the CEPT scheme). Population explosion resulted in increasing population numbers, but not matched by any significant economic growth.
Condition of Indonesia's economy is increasingly uncertain cause many problems in life. One is the increasing levels of poverty population in both rural and urban, which resulted in the reduced ability of residents to meet the needs of primary, secondary, and tertiary.
With the decline of import duty of imported goods can make the domestic market has more competitors. With the reduced demand for the domestic market can disable local producers can not compete with imported goods. Reduced consumer interest to make production cuts that resulted in an increase of unemployment.

Indonesia has not been able to have a policy in favor of small and medium entrepreneurs. Government should be able to limit the entry of imported goods that can harm small and medium businesses in Indonesia.
Selengkapnya...

Open Reqruitment 6



DOWNLOAD FORMULIR OR 6


Selengkapnya...

KIRJAS FAIR 3

PRESS RELEASE KIRJAS FAIR 3, 2010
Sabtu, 13 Februari 2010
Auditorium Bulungan




Ketika sintaksis tak lagi mampu menghubungkan kata
Rasionalitas tak mampu lagi menelusuri genesis kejadian
Hanya asa yang dapat dipijak
Untuk mencari akibat karena adanya suatu sebab
Sebuah kontribusi nyata untuk selalu
Do the best
Be the best
And, show it to the world
Dan itulah kami
KIRJAS


4 tahun sudah KIRJAS berdiri dan mengabdi kepada masyarakat untuk membantu menyelesaikan berbagai macam persoalan social kemasyarakatan yang ada. Salah satu misi KIRJAS untuk melahirkan dan menebarkan anggotanya ke tengah-tengah masyarakat dirasa hampir terimplementasi. Tahun 2009, 5 anggota dan alumni KIRJAS telah mendapatkan gelar Sarjana dari Universitas-universitas terhormat di dalam dan luar negeri.

Setiap tahunnya KIRJAS selalu mengadakan hajatan besar dalam rangka memperingati hari jadinya (kali ini yang ke-4) yg dikemas dalam “KIRJAS FAIR”. KIRJAS FAIR ini memiliki beberapa bentuk kegiatan lain diantaranya LPKS (Lomba Program Kreativitas Siswa 2, 2010) yang telah dimulai 1 bulan sebelum pelaksanaan KIRJAS FAIR. LPKS tahun ini mengangkat tema “We are The Care Human” dengan tahap seleksi: wawancara simulasi perusahaan, coaching clinic, dan grand final. Tahun ini LPKS diikuti oleh 25 tim yang lolos seleksi administrasi dari 34 proposal yang masuk. Pemenang LPKS ini akan mendapatkan piala bergilir dari MENPORA. Selain itu KIRJAS AWARD juga menjadi bagian dari pelaksanaan KIRJAS FAIR ini, tahun ini ada 11 kategori yang diperebutkan.





KIRJAS FAIR dibuka dengan VT KIRJAS dan dipandu oleh 2 MC kawakan KIRJAS: Ikhwan Maulana (Dewan Perintis KJ), dan Enbun Ma’rufah (Sekretaris KJ). Setelah itu dilanjutkan dengan Keynote Speech dari kepala GRJS Bpk Ajang Pinem, yang mengungkapkan tentang pentingnya pembinaan generasi muda dalam membangun mental bangsa. Dan dilanjutkan oleh sambutan Pembina KIRJAS Bpk I Made Martha, yang berharap agar KIRJAS dapat terus eksis untuk memfasilitasi KIR-KIR sekolah tidak hanya yang ada di Jakarta Selatan, Tapi juga di tingkat JABODETABEK.









Acara dilanjutkan dengan penampilan dari rekan-rekan Liga Tari Universitas Indonesia dengan tarian tradisional “Nandak Ganjen” yang turut memeriahkan KIRJAS Fair ini. Acara KIRJAS FAIR tidak hanya berlangsung di dalam ruang teater auditorium bulungan, diluar rang teater juga dipemerkan hasil-hasil penelitian anggota KIRJAS dalam bidang teknologi. Satu persatu nominasi KIRJAS AWARD dibacakan oleh pembaca nominator, dan pemenangnya adalah:

1. Penelitian Terbaik IPA dimemangkan oleh MAN 7 Jakarta dengan judul penelitian “Pemanfaatan Limbah Biji Nangka Sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Bioplastik”
2. Penelitian terbaik IPS: MAN 13 “Hubungan antara Motivasi Berprestasi Siswa Program Kelas Internasional dengan Lunturnya Semangat Nasionalisme”
3. Penelitian terbaik RETEK: MAN 13 “Prototipe Detektor Keretakkan Tanah Pada Tanggul Danau Buatan”
4. Penelitian Terinovatif: MAN 13 “Prototipe Detektor Keretakkan Tanah Pada Tanggul Danau Buatan”
5. Penelitian pengabdian masyarakat: SMAN 34 “Membandingkan kandungan amilum pada beras yang memakai pemutih klorin dengan beras yang tidak memakai klorin”
6. Penelitian peduli lingkungan: SMAN 34 “LEAF SCHYTER”
7. Penelitian Unggulan terbaik: MAN 13 “Prototipe Detektor Keretakkan Tanah Pada Tanggul Danau Buatan”
8. Sekolah terproduktif menghasilkan penelitian: MAN 13 Jakarta
9. Insan terproduktif menghasilkan penelitian: Andy Setyawan, S.Hum
10. Best speaker 2010: Dina Faizah SMAN 34
11. KIR Sekolah Teladan: SMAN 34





Untuk tahun ini persebaran KIRJAS AWARD tidak menyebar ke sekolah-sekolah, hanya 2 sekolah yang terlihat unggul di KIRJAS AWARD 2010 ini yaitu MAN 13 dan SMAN 34. Penelitian tentang Prototipe Detektor Keretakkan Tanah Pada Tanggul Danau Buatan” menjadi penelitian terbaik di tahun 2010 ini. Hal ini disebabkan karena latar belakang penelitian tentang bencana situ gintung dan prestasi yang telah diraih oleh penelitian ini selama tahun 2009, dirasa pantas untuk mendapatkan predikat penelitian terbaik 2010. Kategori terbaik KIRJAS AWARD yaitu KIR SEKOLAH TELADAN tahun ini jatuh kepada SMAN 34, setelah tahun kemarin direbut oleh SMAN 8. Pemenang KIR SEKOLAH TELADAN selain mendapatkan plakat KIRJAS AWARD juga berhak mendapatkan trophy bergilir dari MENRISTEK.

KJ FAIR 2010 juga di isi dengan training motivasi dengan judul “To be Number One” oleh bpk Edi dari MITI (Masyarakat Ilmuan dan Tekhnolog Indonesia). Untuk menghibur para undangan panitia juga mendatangkan tim saman dari MAN 7 untuk memeriahkan acara. Setelah pembacaan semua nominasi KJ AWARD , dan presentasi selesai, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang LPKS 2010 diantaranya:

1. Juara Umum : Finding Love, tim REACH
2. Juara 1 : Finding Love, tim REACH
3. Juara 2 : DEBAT (Edukasi Pelajar Buat Tanah Air) SMAN 87
4. Juara 3 : Pemilihan Duta Cilik Ciliwung 2010, SMKN 20
5. Harapan 1 : PESEN TAKSIX, SMAN 26
6. Harapan 2 : 32 Award, SMAN 32
7. Harapan 3 : BASKOMS (Badan Sarana Komunikasi Siswa), MAN 7
8. Best Idea : Finding Love, tim REACH
9. Best Packaging : Finding Love, tim REACH
10. Best Panelis : BASKOMS (Badan Sarana Komunikasi Siswa), MAN 7
11. Best Speaker : Fadilla Rahmatun Shaleha, SMKN 20




Untuk juara umum LPKS 2010 akan mendapatkan piala bergilir MENPORA dan uang pengimplementasian program senilai Rp. 5.999.900;

Di akhir acara dilanjutkan dengan perayaan ulang tahun KIRJAS yang ke 4 dengan seremonial peniupan lilin ulang tahun, dan pemotongan kue.


Tiada hal yang dapat kami lakukan selain mengabdi untuk masyarakat
Diusia kami yang ke-4 ini, akan semakin memacu kami untuk melahirkan ilmuan-ilmuan muda masa depan dan menebarkannya ke tengah masyarakat.
Dukungan dari semua pihak mutlak kami perlukan agar kedepannya kami dapat berkarka jauh lebih baik, untuk diri sendiri, keluarga, bangsa, dan dunia ini
Doakan kami untuk selalu
Do The Best
Be The Best
And Show it to the world


Selengkapnya...