Lomba Karya Ilmiah Remaja ke-43 Tahun 2011

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan AJB Bumiputera 1912 akan menyelenggarakan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-43 Tahun 2011. LKIR adalah ajang kompetisi ilmiah bagi remaja Indonesia usia 12-19 tahun yang memiliki ketertarikan di dunia penelitian, guna meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan dan mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi iptek. Setiap peserta harus mengikuti semua persyaratan yang tercantum pada informasi di bawah ini sebelum membuat scientific paper/karya tulis ilmiah. Rangkaian pelaksanaan lomba berupa:

  1. Peserta mengirimkan proposal penelitian kepada panitia lomba :16 Mei 2011
  2. Proposal yang lolos seleksi akan dilakukan pembimbingan minimal 3 (tiga) bulan oleh pembimbing (yang ditentukan LIPI) melalui komunikasi jarak jauh seperti via electronic mail dan telepon : Juni-September 2011
  3. Hasil akhir penelitian berupa karya tulis ilmiah akan diseleksi kembali untuk diundang mengikuti presentasi/expose sebagai Finalis di Jakarta : 23 September 2011
  4. Finalis melakukan presentasi hasil penelitian mereka dihadapan Dewan Juri berupa paparan Power Point dan Poster hasil penelitian : 3 Oktober 2011
  5. Pemenang akan diumumkan pada malam penganugerahan : 4 Oktober 2011

DRAFT PANDUAN

KATA PENGANTAR

Informasi ini bertujuan untuk membantu remaja Indonesia yang akan mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-43 Tahun 2011 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan AJB Bumiputera 1912. LKIR adalah ajang kompetisi ilmiah bagi remaja Indonesia usia 12-19 tahun yang memiliki ketertarikan di dunia penelitian, guna meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka dalam menganalisa permasalahan untuk mencari solusi yang tepat melalui penelitian dan aplikasi iptek.

Setiap peserta harus mengikuti semua persyaratan yang tercantum pada informasi di bawah ini sebelum membuat scientific paper/karya tulis ilmiah. Rangkaian pelaksanaan lomba berupa:

1. Peserta mengirinkan proposal penelitian kepada panitia lomba

2. Proposal yang lolos seleksi akan dilakukan pembimbingan minimal 3 (tiga) bulan oleh pembimbing (yang ditentukan LIPI) melalui komunikasi jarak jauh seperti via electronic mail dan telepon

3. Hasil akhir penelitian berupa karya tulis ilmiah akan diseleksi kembali untuk diundang mengikuti presentasi/expose sebagai Finalis di Jakarta

4. Finalis melakukan presentasi hasil penelitian mereka dihadapan Dewan Juri berupa paparan Power Point dan Poster hasil penelitian.

5. Pemenang akan diumumkan pada malam penganugerahan

Kami menyadari bahwa penguasaan sains dan teknologi adalah prasayarat penting bagi daya saing dan kemajuan sebuah bangsa, selain itu penyelenggaraan lomba karya ilmiah remaja memiliki peran strategis dalam upaya menarik minat dan kecintaan mereka terhadap sains dan teknologi tersebut, sehingga daya saing bangsa Indonesia akan meningkat serta mampu ketertinggalannya dari bangsa-bangsa lain.

Kami berharap informasi ini dapat berguna dan menjadi gambaran yang jelas bagi siswa-siswi yang tertarik maupun akan mengikuti LKIR.

Panitia LKIR

PANDUAN MELAKUKAN PENELITIAN

1. Pilih tema penelitianmu, langkah ini memang bagian yang paling sulit, namun pilihlah topik yang menarik minat kamu untuk mempelajarinya lebih dalam. Umumnya ide-ide datang ketika kamu sedang melakukan hobi atau tertarik terhadap hal-hal unik di sekitar lingkunganmu. Hal yang paling penting ketika memilih tema atau sebuah masalah adalah bahwa hal itu dapat dijawab melalui penelitian ilmiah.

2. Teliti tema penelitianmu, pergilah ke perpustakaan atau carilah data sebanyak-banyaknya di internet. Selalu bertanya “Mengapa……….”atau “Bagaimana jika….”. carilah hasil-hasil yang tidak terjawab dan tidak dijelaskan, dan carilah pembimbing untuk membantumu menemukan jawabannya.

3. Fokus terhadap tema, berpikir sistematis terhadap penelusuran dan pencarian masalah

4. Rencanakan penelitianmu, tulislah rencana penelitianmu.Gambarkan bagaimana kamu akan melakukan eksperimen atau mencari data primer dan sekunder (metode penelitian yang digunakan). Amatilah perkembangan dari setiap tahap penelitian yang kamu lakukan, dan buatlah parameter yang tepat untuk tujuan maupun hasil penelitianmu.

5. Konsultasikan dengan pembimbingmu, jika membutuhkan bantuan dalam proses penelitianmu, maka konsultasikan dengan guru atau pembimbingmu guna mendapatkan pandangan atau solusi lain.

6. Fokus terhadap penelitian, tetap berpegang terhadap catatan atau data rinci hasil penelitian. Buatlah ukuran/parameter dan hasil observasi dalam sebuah buku khusus, jangan hanya mengandalkan ingatan semata. Buatlah tabel data atau diagram untuk menggambarkan data kuantitatif.

7. Menganalisa hasil penelitianmu, ketika kamu melengkapi hasil percobaan. Gunakan grafik tepat guna untuk membuat gambaran dari data penelitianmu. Identifikasi pola yang ada. Hal ini akan membantumu untuk menjawab pertanyaan yang sulit. Apakah hasil penelitianmu berdasarkan langkah yang tepat setiap waktu? Patut diingat, bahwa kesalahan interpretasi adalah salah satu kunci bahwa peneliti harus selalu belajar.

8. Gambarkan hasil kesimpulanmu, apakah variabel yang kamu coba sudah sesuai dengan standar yang kamu gunakan? apakah kamu sudah cukup mengumpulkan data, apakah kamu membutuhkan bimbingan lebih jauh? Tetap buka pikiran jika hasil penelitian tidak sesuai dengan teori. Jika hasil penelitianmu tidak mendukung teorimu, jangan khawatir karena itu kadang terjadi, coba cari dan jelaskan faktor-faktor yang membuat hasil penelitianmu berbeda dengan hipotesismu.


Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-43 Tahun 2011

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – AJB Bumiputera 1912

PERSYARATAN LOMBA

PESERTA

1. Usia 12-19 tahun terhitung pada tanggal 25 September 2011

2. Perorangan atau kelompok maksimal 3 orang

3. Belum pernah menjadi pemenang LKIR dalam kurun waktu dua tahun terakhir

4. Melampirkan surat keterangan dari sekolah/instansi terkait, riwayat hidup diketahui oleh orangtua atau wali, mencantumkan alamat dan nomor telepon yang mudah dihubungi.

BIDANG PENELITIAN

1. Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial.

2. Bidang Ilmu Pengetahuan Alam

3. Bidang Ilmu Teknik dan Rekayasa

PENULISAN PROPOSAL PENELITIAN (maksimal 10 halaman)

1. Judul bebas (dalam konteks obyek penelitian)

2. Materi merupakan proposal penelitian yang akan dilaksanakan dengan metode ilmiah dan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan yang benar, memakai template yang telah ditentukan meliputi :

· Judul dan nama penulis dalam 1 halaman

· Penulisan abstrak tidak lebih dari 300 kata

· Substansi: pendahuluan, masalah yang akan diteliti, hal baru yang diajukan terkait masalah, metode yang akan dilakukan sebagai justifikasi atas hal baru yang diajukan, kesimpulan, referensi

· Daftar riwayat hidup setiap penulis

· Menandatangani perjanjian diatas meterai

· Format judul dan abstrak dapat diunduh melalui situs LKIR 2010 http://kompetisi.lipi.go.id/lkir43

3. Diketik dengan jarak 1½ spasi, jenis huruf Arial, ukuran huruf 11, menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar

4. Proposal penelitian dikirimkan secara elektronik melalui situs LKIR 2010 diterima oleh panitia selambat-lambatnya tanggal 16 Mei 2011. Peserta sangat dianjurkan untuk mengirim secara elektronik, dan hanya bila tidak memungkinkan bisa dikirim melalui pos tetapi harus dilengkapi dengan berkas elektronik lengkap.

5. Pengumuman proposal penelitian yang disetujui akan dilakukan pembimbingan oleh LIPI diinformasikan pada tanggal 7 Juni 2011 melalui situs di atas

6. Kegiatan pembimbingan penelitian proposal yang telah disetujui akan dilakukan dalam periode Juni – September 2011

7. Pengiriman hasil akhir penelitian yang telah melalui proses pembimbingan, harap dikirim melalui situs LKIR 2010 dan harus diterima Panitia paling lambat pada tanggal 12 September 2011

8. Finalis akan diundang ke Jakarta untuk presentasi. Bagi finalis kelompok, yang diundang hanya Peneliti Utama (berada di urutan pertama) untuk mewakili kelompoknya. Pengumuman finalis dapat dilihat melalui situs LKIR 2010 pada tanggal 23 September 2011

9. Pemenang LKIR 2010 diumumkan pada malam penganugerahan

10. Panitia berhak menyebarluaskan karya tulis dan alat peraga yang diperlombakan melalui berbagai media

11. Panduan dan informasi lomba dapat dilihat melalui situs LKIR 2010

HADIAH

Pemenang akan mendapatkan uang tunai dari AJB Bumiputera 1912 dan Piala serta Piagam Penghargaan dari LIPI

Pemenang I : Rp 12.000.000,- (Dua belas juta rupiah)

Pemenang II : Rp 10.000.000,- (Sepuluh juta rupiah)

Pemenang III : Rp 8.000.000,- (Delapan juta rupiah)

RANGKAIAN KEGIATAN

1. Penerimaan proposal penelitian : 16 Mei 2011

2. Pengumuman proposal yang dibimbing : 7 Juni 2011

3. Proses pembimbingan penelitian : 9 Juni – 12 September 2011

4. Penerimaan hasil akhir penelitian (Full Paper) : 12 September 2011

5. Pengumuman Pemanggilan Finalis : 23 September 2011

6. Registrasi Finalis LKIR : 2 Oktober 2011

7. Presentasi : 3 Oktober 2011

8. Audiensi dan Field Trip : 4 Oktober 2011

9. Malam Penganugerahan : 4 Oktober 2011

Proses pembimbingan proposal penelitian akan dilakukan oleh Pembimbing (Scientific Review Committee/SRC) yang ditentukan oleh LIPI.

Panitia Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Ke-43 Tahun 2011

Gedung Sasana Widya Sarwono Lt. 5

Jl. Jend. Gatot Subroto No. 10

Jakarta Selatan 12710

Telp (021) 5225711, ext. 273, 274, 276

Fax. (021) 52920839, 5251834

Situs LKIR 2011 : http://kompetisi.lipi.go.id/lkir43

MEKANISME PELAKSANAAN DAN PEMBIMBINGAN LOMBA

1. Peserta mengirinkan proposal penelitian yang berisi (diterima paling lambat oleh panitia 16 Mei 2011

· Judul dan nama penulis dalam 1 halaman

· Penulisan abstrak tidak lebih dari 300 kata

· Substansi: pendahuluan, masalah yang akan diteliti, hal baru yang diajukan terkait masalah, metode yang akan dilakukan sebagai justifikasi atas hal baru yang diajukan, kesimpulan, referensi

· Daftar riwayat hidup setiap penulis

· Menandatangani perjanjian diatas meterai

2. Proposal yang lolos seleksi akan dilakukan pembimbingan minimal 3 (tiga) bulan oleh pembimbing (yang ditentukan LIPI) melalui komunikasi jarak jauh seperti via electronic mail dan telepon

3. Hasil akhir penelitian berupa karya tulis ilmiah akan diseleksi kembali untuk diundang mengikuti presentasi/expose sebagai Finalis di Jakarta

4. Finalis melakukan presentasi hasil penelitian mereka dihadapan Dewan Juri berupa paparan Power Point dan Poster hasil penelitian.

5. Pemenang akan diumumkan pada malam penganugerahan

KRITERIA PENILAIAN

LOMBA KARYA ILMIAH REMAJA KE-43 TAHUN 2010

Bidang

Penilaian Karya Tulis

Presentasi

IPA

Ide (25%), Orisinalitas (25%), Metode (15%),

Keberlanjutan (15%), Muatan Lokal (10%), Bahasa (10%)

Orisinalitas-Ide dan Konsep Temuan Baru (30%)

Sistematika (10%), Penguasaan Materi (30%), Analisis (20%), Penampilan (10%)

IPSK

Ide Penelitian (ltr belakang, rumusan masalah, signifikansi, manfaat penelitian, dll) (20%), Orisinilitas & kemutakhiran ide (dibandingkan dengan studi-studi sebelumnya/studi peneliti lain) (20%), Metodologi (pengumpulan data, analisis data, referensi teori, alur pikir/kerangka konseptual) (10%), Analisis (ketersediaan, validitas & intepretasi data, hubungan kausalitas,) (25%), Keberlanjutan (gagasan & rekomendasi) (10%), Teknik penulisan ilmiah (Bahasa, paragraf, kalimat, tanda baca, dll) (15%)

Sistematika presentasi (alur pemaparan, meliputi: alur pikir penelitian & substansi) (15%), Orisinalitas (dibandingkan dengan studi-studi sebelumnya/studi peneliti lain) (25%), Penguasaan metodologi (pengumpulan data, referensi teori, alur pikir/kerangka konseptual)

(15%), Analisis & penguasaan materi

(30%), Penampilan (penuturan lisan, bahasa tubuh, kemampuan persuasi)

(15%)

IPT

Ide (25%), Orisinalitas (25%), Metode (15%),

Keberlanjutan (15%), Muatan Lokal (10%), Bahasa (10%)

Orisinalitas-Ide dan Konsep Temuan Baru (30%)

Sistematika (10%), Penguasaan Materi (30%), Analisis (20%), Penampilan (10%)

info lebih lanjut silahkan berkunjung ke: http://kompetisi.lipi.go.id/lkir43/

Selengkapnya...

KARTINISME : Wanita yang Terus Berjuang Menjadi Perempuan


Wanita itu selalu berjalan dengan berjongkok menghinggapi si empunyanya

Entah mengapa kakinya tidak dipergunakan dengan baik

Melayani itu harus di bawah

Pantang sejajar dengan si empunya nyawa dan dirinya..

(sepenggal ilustrasi masa priyayi jawa dalam gambaran tetralogi Bumi Manusia Pramudya Anantatoer)

Kain putih itu selayaknya KUbangAn keberanian

Ya…benar.. DaRah itu selalu mengidentikkan keberanian

Dan dia yang bersama kubangan darah adalah ia dengan kodrATnya sebagai perempuan

Rumus dasar

Perempuan = KUADRAT = produsen dua produk: kehidupan (manusia), cinta & kasih sayang (sebagai implikasi dari konsep “mothering” kepada anaknya)

(diksi dalam masih adakah perempuan seperti dia..soon..)

Dalam perjalanannya, sejarah tidak pernah berpihak pada perempuan. Sejarah selalu menceritakan kegagahan dan keberanian laki-laki dalam mengukir sejarah, tanpa sedikitpun menyentuh perempuan sebagai bagian dari kehidupan sosietas laki-laki tersebut. Sejarah tidak pernah secara eksplisit menyebutkan peran perempuan dalam upaya pengukiran peristiwa dari suatu peradaban. Dalam historisitasnya, perempuan selalu digambarkan sebagai makhluk kelas dua setelah laki-laki, dalam pengertian yang lebih frontal bahwa perempuan ada untuk melayani laki-laki dalam upaya laki-laki mengukir sejarah. Hegemoni ini mutlak terpelihara selama berabad-abad dan perempuan seakan nyaman dengan kondisi ini. Betapa tidak, menjadi nyonya besar yang selalu bergelimangan materi dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang selalu disuplai oleh laki-laki menjadikan kenyamanan ini terus terpelihara hingga saat ini. Salahkah situasi ini?, jelas sama sekali tidak! Selama perempuan masih tetap mau dan nyaman menjadi “Nyonya Bambang”, “Nyonya Badrun”, dan nyonya-nyonya lainnya tanpa identitas diri yang sebenarnya. Dan identitas ini akan terus melekat hingga akhir hayatnya bersama dengan lelakinya. Kenapa anda (perempuan) tidak merasa nyaman menjadi “Nyonya Asti” “Nyonya Tini” dan nyonya-nyonya yg lain yang memiliki identitas pribadi yang telah terberikan dari lahir. Secara tidak langsung pengenaan identitas ini memasung hak-hak perempuan untuk menjadi pribadinya sendiri secara utuh dan mandiri.

Bukan fenomena aneh ketika tepat dipagi hari ini tanggal 21 April banyak anak-anak TK dan mungkin SD berbondong-bondong melakukan karnaval dengan menggunakan baju daerah.

Salahkah dengan perayaan ini?

Sama sekali tidak, seorang anak hanya akan meniru dan mengikuti apa yang orang terdekatnya katakan dan perintahkan. Mengajarkan nilai-nilai budaya sedini mungkin sama sekali tidak ada salahnya (dengan cara berarak-arakkan dengan menggunakan baju daerah). Namun yang perlu menjadi perhatian serius adalah, apa urgensinya bagi selebrasi perjuangan kartini di masa lampau?. Yang lebih parah lagi, para orang tua dan guru-guru mereka pun ikut membaur dengan perspektif yang sama dari setiap anak setiap tahunnya “hari kartini adalah saatnya berarak-arakkan menggunakan pakaian daerah”. Lalu apakah selebrasi ini hanya diartikan kembali dengan : mengkainkan tubuh dengan sehelai batik dan brokat hitam ketat bersanggul besar dibelakang kepala yang jelas-jelas adalah tradisi “menata” perempuan menjadi “bekisarnya” tuan-tuan tanah di Jawa ketika masa penjajahan dulu. Memang diperlukan pencerdasan lebih jauh terhadap pemahaman ini, jangan sampai anak-anak kita ke depan akan selalu dibekali dengan pemahaman terhadap perjuangan perempuan (Kartini) yang keliru. Selebrasi mutlak diperlukan untuk tetap menjaga semangat perjuangan perempuan, namun pengemasan terhadap selebrasi tersebut mutlak memerlukan suatu pencerdasan akan pengingatan kembali perjuangan terdahulu agar nilai-nilai perjuangan tersebut tidak tereduksi oleh perkembangan zaman.

Urgensi Pendidikan Bagi Perempuan : Dilema Antara Cerdas = dapur,kasur,sumur!

Sudah menjadi pandangan umum bahwa hilir dari perjuangan dan eksistensi perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga yg akan selalu berhubungan dengan dapur, kasur, dan sumur. Setinggi apapun pendidikan perempuan tersebut pasti akan berujung pada pengabdiannya terhadap keluarga (suami & anak). Lalu sekarang pertanyaannya, untuk apa pendidikan tinggi bagi perempuan jika karirnya kelak hanya berujung di rumah?. Bagi saya pandangan ini bisa diterima secara actual, namun bisa juga diperdalam secara kritis agar jauh lebih bermanfaat aplikatif. Bagi saya perempuan mutlak harus berpendidikan tinggi, karena setidaknya dialah sosok guru pertama yang akan memberikan pencerdasan kepada anak-anak saya kelak. Pendidikan ideal mutlak berlangsung dan berawal dalam ranah keluarga, dan ibu merupakan sosok terdekat bagi kelangsungan perkembangan anak. Perempuan berpendidikan adalah suatu keharusan, karena dialah yang nanti akan menceritakan keholistikan dunia ini kepada anaknya, tanpa pendidikan perempuan niscaya hanya akan menceritakan pengalaman pribadinya dalam lingkup kecil kesehariannya.

Lalu apakah pendidikan bagi perempuan hanya akan berimpikasi positif terhadap perkembangan anaknya tanpa bisa membuat pribadinya berkembang?. Sejatinya dengan berupaya menjadi produsen pentransfer ilmu dan pengalaman kepada anaknya, seorang perempuan secara tidak langsung melakukan usaha pengembangan diri secara dua arah, di satu sisi bagi dirinya sendiri di lain sisi memberikan pencerdasan kapada orang lain (anaknya). Jadi tidak ada alasan bagi peempuan untuk tidak berkembang di rumah mulai dari sekarang.

Perempuan secara kodrati memang terbatasi dengan kondisi fisiologinya,

Namun keterbatasan itulah yang menjadi kekuatan sebagai produsen peradaban

Bukan hanya itu, perannya sebagai supervisor dalam mendidik benih-benih pemimpin mutlak menjadi sorotan utama fungsi perempuan dalam menentukan arah peradaban kedepannya

Untuk itu kenapa hanya mau menjadi WANITA (Wong Sing di Toto “oleh laki-laki”), mulai sekarang kalian harus berani dan lantang mengatakan “SAYA PEREMPUAN!” dan masa depan peradaban ini ada ditangan saya..

Andy Setyawan

Refleksi Peringatan Hari Kartini 21 April 2011

Selengkapnya...

GREAT TRAINING "Jangan Ngaku Anak KIR Kalo Nggak Ngerti Riset!'


Selengkapnya...

Ratusan siswa sekolah menenh mengikuti lomba sains. Tema yang ditelitimenjawab pertanyaandi lingkungannya masing-masing.Tulang belulang ikan berserakan dekat sebuah pabrik di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Barang sisa yang dibuang oleh pengelola pabrik pengolahan ikan ini menarik perhatian tiga pelajar SMA Negeri 90 Jakarta. Arya Marantika, Rahmat Irkham Triaji, dan Trisna Marselia meneliti tulang ikan tuna tersebut di laboratorium sekolah yang terletak di Kecamatan Pesanggrahan.

"Kalsium banyak ditemukan pada lima ruas tulang terbelakang ikan tuna daripada ruas tulang sebelumnya," kata Arya Marantika, pelajar kelas XII sekolah tersebut. Memakan bubur tim dengan tulang ikan ini, ujar Rahmat, bisa memenuhi sebagian kebutuhan kalsium harian sebesar 500-800 miligram ketimbang mengkonsumsi tanpa tulang ikan.

Penelitian bertajuk "Pemanfaatan Lima Ruas Tulang Terbelakang Ikan Tuna Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bubur Tim Instan bagi Anak di Bawah Tiga Tahun" itu meraih gelar juara pertama (medali emas), kategori ilmubiologi dalam Olimpiade Proyek Sains Indonesia atau Indonesia Science Project Olympiad (ISPO) 2011. Mereka akan mewakili Indonesia pada Olimpiade Pelajar Internasional (INEPO) di Turki.

Lomba ilmiah remaja tahunan ini Sabtu lalu ditutup oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. "Kengintahuan para peserta terhadap masalah yang ada di sekitar sangat tinggi, dan mereka mencoba mencari jawabannya," kata Fasli, yang melihat presentasi dan pameran peserta di Balairung Universitas Indonesia, Depok. Ini adalah investasi kita, kata Fasli, mereka akan menjadi "Einstein-Eins-tein" Indonesia di masa yang akan datang.

Panitia Olimpiade Sains menerima 618 proyek yang dikirim siswa dari 156 sekolah di 20 provinsi. Dari jumlah itu, dipilih 170 proyek yang mengikuti babak final di Jakarta. Dewan juri, yang diketuai Umar Anggara Jenie, mantan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, memilih para pemenang berdasarkan enam kategori ilmu fisika, kimia, biologi, lingkungan, teknologi, dan komputer.

Memang banyak tema penelitian yang berkisar pada masalah di lingkungan sehari-hari. Misalnya, peraih medali emas kategori fisika yang diraih Revita Sari dan Yulia Sasmita, pelajar SMA Teuku Nyak Arief Fatih Bilingual School,

Nanggroe Aceh Darussalam. Pelajar kelas XI ini merancang oven dengan bahan bakar sabut kelapa. Pohon kelapa memenuhi sepanjang pesisir Aceh. Sayang, kata Revita, sabutnya banyak dibuang. Termasuk yang ada di dekat sekolahnya.

Penelitian lain dilakukan oleh Christie Angelia Ruslim dan Juan, peraih medali emas kategori kimia dari SMA Santa Laurensia, Banten. Keduanya mengajukan riset dengan judul "Pemanfaatan Olahan Ban Bekas dalam Joint Sealant dengan Lignin Sebagai Bahan Pengemisi". Mereka membuat aspal dari ban bekas yang diolah tersebut.

Peraih medali emas kategori teknologi diraih Andy Aulia Prahardika dan Abyan Adam dari SMA Negeri 3 Semarang, Jawa Tengah. Kedua pelajar ini melakukan penelitian berjudul "Sensor Banjir Landasan Pacu Efektif dan Ramah Lingkungan". Alat sensor yang ada saat ini, kata Andy, harganya mahal.

Untuk kategori komputer, peraih medali emas adalah Ikhsan Brilianto dan Greha Devana Candra, pelajar SMA Negeri 1 Yogyakarta. Mereka mengembangkan perangkat lunak "future market" sebagai sistem belanja solusi peningkatan fasilitas swalayan. Sedangkan untuk kategori lingkungan, peraih medali emas berasal dari SMA Negeri 2 Kuningan, Jawa Barat.

ISPO, yang diselenggarakanoleh Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association, terbuka bagi siswa SMP/MTs dan SMA/MA serta SMK di seluruh Indonesia. Program ini mendorong para remaja mencintai ilmu pengetahuan, membudayakan berpikir ilmiah, melakukan penelitian dan mengembangkannya, serta menghasilkan produk ilmiah.

"Kegiatan ini menjadi wadah peneliti muda untuk berkompetisi sehat pada tingkat nasional dan mendorong lingkungan pembelajaran yang nyata dengan menafsirkan hal-hal yang abstrak dalam sains ke proyek yang realistis," kata Presiden ISPO Bambang Sudibyo. Dia berharap ISPO membantu membangun budaya kritis, budaya melakukan penelitian, dan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang orisinal.

Selain mendapat medali, para pemenang ISPO mendapatkan hadiah dari sponsor dan dikirim mengikuti kompetisi sejenis pada tingkat internasional di Turki, Brasil, Amerika Serikat, Azer-baijan, Rumania, serta Georgia.

Pada 2009 dan 2010, para pemenang ISPO meraih berbagai penghargaan, di antaranya medali emas dan perak pada kompetisi I-SWEEPEP di Amerika Serikat dan kompetisi IYIPO di Georgia. Selain itu, mereka meraih medali emas pada kompetisi ISTE-MOSTRATED di Brasil.

UNTUNG WDWHTO

Selengkapnya...

Jalesveva Jayamahe "Di Laut Kita Jaya"


Paradigma masyarakat Indonesia tentang laut cenderung berbeda dengan realitas, laut diidentikkan sebagai kolam pembuangan, seperti adanya kasus-kasus pembuangan limbah-limbah industri, libah rumah tangga dan limbah pertanian ke laut seakan bahwa laut itu tak ubahnya seperti tempat sampah. Pandangan bahwa ketersediaan ruang yang luas untuk menyembunyikan kotoran-kotoran produk manusia menjadi signifikan ketika tidak ada perhatian serius dari pemerintah selaku pemangku kebijakan. Oleh Karen aitu, kondisi ini perlu menjadi sorotan yang tajam baik oleh pemerintah maupun praktisi di bidang bahari. Sangat ironis, mengingat sekitar 75% wilayah negara ini terdiri dari lautan dengan ribuan pulau yang terbentang dari Merauke sampai Sabang dan dari Rote hingga Sangir Talaud, yang memiliki begitu banyak potensi yang perlu dikelola untuk kemakmuran seluruh bangsa Indonesia.

Laut adalah salah satu sumber penghidupan utama bagi manusia, sifatnya produktif dan hidup, walaupun sifatnya produktif, laut tidak memerlukan maintenance dari manusia itu sendiri. Ke-maintenance-nya telah terberi dari mula laut itu terbentuk dengan air sebagai unsure utama produktivitasnya. Namun, bukan berarti sifat tidak perlu termaintenance ini diartikan kebablasan menjadi ladang eksploitasi dan tempat penyembunyian segala momok dan kotoran produk manusia.

Potensi bahari yang identik dengan sektor perikanan, pariwisata bahari, pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan bahari dan jasa bahari tidak mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah karena pemerintah lebih menekankan pada kebijakan pembangunan berbasis continental. Potensi bahari Indonesia begitu besar karena luasan serta posisi geografis yang sangat strategis. Hal ini sangat terkait dengan sektor ekonomi yang merupakan barometer kemajuan suatu bangsa. Untuk itu sudah selayaknya jika pemerintah mulai mengalihkan arah kebijakan ke pembangunan yang berbasis bahari.

Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan menyebutkan potensi sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,408 juta ton per tahun yang terdiri dari pelagis besar sekitar 1,165 juta ton per tahun, pelagis kecil sekitar 3,605 juta ton per tahun, demersal sekitar 0,145 juta ton per tahun dan udang, termasuk cumi-cumi sekitar 0,128 juta ton per tahun. Dalam konteks pembangunan sektor perikanan tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah membagi wilayah perairan Indonesia menjadi 9 wilayah pengelolaan perikanan (WPP), mulai dari Selat Malaka hingga Laut Arafura. Dilihat dari konteks WPP ini, potensi sumberdaya perikanan terbesar terdapat di WPP 1 (Samudera Hindia) di mana tercatat memiliki potensi sumberdaya perikanan sebesar 1.076.890 ton per tahun, kemudian diikuti oleh WPP 2 (Laut Cina Selatan) sebesar 1.057.050 ton per tahun. Sedangkan potensi sumberdaya perikanan terkecil terdapat di WPP 1 (Selat Malaka) yaitu hanya sebesar 276.030 ton per tahun.

Potensi sumber daya mineral bahari tersebar pada jalur tektonik mulai dari kawasan pantai hingga Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Berdasarkan UNCLOS 1982 (United Nation Conventions On The Law of The Sea), Indonesia diberikan hak kewenangan memanfaatkan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas 2,7 juta km2 yang menyangkut eksplorasi, eksploitasi pengelolaan sumber daya hayati dan non-hayati, penelitian dan yuridiksi mendirikan instalasi atau pulau buatan. Batas terluar dari ZEE ini adalah 200 mil dari garis pantai pada saat surut terendah. Pada umumnya mineral-mineral tersebut terperangkap di dalam lapisan sedimen, mulai dari sedimen permukaan berumur Kuarter hingga ribuan meter di bawah dasar laut pada sedimen tersier. Sumber daya mineral penting yang mampu mendukung kegiatan industri pertambangan adalah endapan hidrotermal yang pembentukannya dipengaruhi oleh kegiatan magmatis, dan endapan mineral sedimen yang berasosiasi dengan pengendapan sedimen. Sumber daya mineral lepas pantai yang telah diidentifikasi adalah: Timah yang merupakan endapan letakan (placer deposit), Fosforit berupa fospat kalium, Kerak dan nodul oksida yang berindikasi mangaan, Kobal, pasir besi, lumpur logam besi, kromit yang berasosiasi dengan batuan ultrabasa-ofiolit dan Mineral zirkon dan monasit, serta karbonat dan agregat untuk bahan konstruksi.

Potensi bahari ini akan berpengaruh terhadap perkembangan usaha transportasi laut karena meningkatnya kegiatan ekspor – impor, sehingga para pelaku usaha di bidang transportasi laut boleh menaruh harapan akan bangkitnya kembali bidang ini. Untuk menggairahkan transportasi laut perlu diupayakan berbagai kebijakan yang mendukung. Pelabuhan sebagai bagian integral dari transportasi laut nasional mempunyai peranan yang sangat penting dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena merupakan wahana pokok dalam meniadakan kesenjangan ekonomi, sosial budaya, politik dan keamanan masyarakat yang tersebar di seluruh wilayah nusantara dengan segala keberagamannya. Sehingga dalam pembangunan dan penataannya tidak hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomis semata tetapi harus memandang kepentingan bangsa secara utuh. Untuk lingkungan regional, disepakatinya perdagangan bebas di kawasan ASEAN (AFTA), kerjasama sub regional di kawasan Asia Tenggara seperti SIJORI (Singapore-Johor-Riau), IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapore Growth Triangle), IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle) dam BIMP-EAGA (Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia- Philippines East Asia Growth Area) harus menjadi pertimbangan dalam penentuan kebijakan di bidang kepelabuhanan. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai international hub port (pelabuhan pengumpul internasional) yang diharapkan bisa mengurangi cost akibat transit di Singapura. Diperkirakan penghematan bisa mencapai US$ 500 juta per tahun. Karena selama ini, pelabuhan-pelabuhan di Indonesia masih bersifat pengumpan (feeder) dan belum menjadi pelbuhan dalam seperti di Singapura dan Malaysia.

Menurut data statistik Indonesia mempunyai peti kemas 5,3 juta twenty feet equivalent unit’s (TEU’s) per tahun. Sebanyak 90% dari jumlah tersebut dikirim dulu ke Singapura kemudian baru dilanjutkan ke negara tujuan ekspor. Untuk impor barang pun berlaku hal yang sama. Artinya ada sekitar 9,4 juta TEU’s yang keluar dan masuk Indonesia setiap tahun. Potensi transportasi laut ini mutlak harus mendapatkan perhatian serius dari beberapa kalangan baik pemerintah maupun swasta, agar dapat sama-sama bersinergi menguatkan transportasi laut kita.

Potensi SDA bahari yang masih alami tentunya akan berimplikasi pada potensi keindahan alam yang dapat dimanfaatkan pada sector industri pariwisata. Contoh konkrit yaitu potensi terumbu karang di wilayah perairan Indonesia yang luasnya mencapai 7.500 km2. Kegiatan pariwisata bahari selama ini terkonsentrasi antara lain di kawasan perairan Sunda Kecil (Bali, Lombok dan sekitarnya), Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua. Sebagai contoh, untuk kawasan wisata surfing, lokasi seperti Nias, Pulau Weh, Pulau Asu, Pantai Sorake di Sumatera, Pulau Panaitan, Pulau Deli di Jawa, Madewi, Balian, Canggu di Bali, dan Teluk Ekas, Labuhan Haji di Nusa Tenggara. Selain itu beberapa tempat di Sulawesi dan Papua sangat baik dikembangkan menjadi obyek wisata bahari. Untuk lokasi diving (penyelaman bawah laut), beberapa daerah seperti Ujung Kulon, Kepulauan Seribu dan kawasan Krakatau di Jawa, Pulau Menjangan, Tulamben di Bali, kawasan Banda di Ambon, Gili Trawangan, Meno dan Air di Lombok merupakan beberapa contoh lokasi wisata bahari yang terkenal dengan lokasi penyelaman terbaik di dunia. Walaupun pada kenyataannya hampir semua wilayah perairan Indonesia menawarkan potensi pariwisata yang dapat dieksplor untuk meningkatkan devisa Negara.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemerintah juga telah berupaya untuk mengembangkan sektor kebaharian kita. Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

beserta peraturan pelaksananya diharapkan bisa mendorong peningkatan usaha di sektor

maritim, seperti industri pelayaran, galangan kapal, jasa kepelabuhanan, perikanan, dan

lainnya. Apalagi seluruh potensi maritim Indonesia bisa menjadi andalan sebagai sumber

perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun walaupun begitu, implementasi dari UU ini harus mengedepankan semangat nasionalisme dan untuk kepentingan public bukan untuk kepentingan pribadi semata. Karena dalam aktualisasinya hampir 70% bisnis pelayaran dikuasai pihak asing. Dan upaya pengeksplorasian sektor perikanan tangkap di laut, baru dioptimalkan sebesar 40 persen dari potensi yang ada.

Oleh karena itu, ini menjadi tantangan besar bagi kita generasi muda untuk bersinergi bersama membangun dan mengembangkan sektor bahari kita. Luasnya wilayah perairan kita menuntut SDM ahli untuk bergerak menguasai ilmu kelautan dan kebaharian kita agar kekayaan laut kita dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Jalesveva Jayamahe

Di laut kita Jaya

Selengkapnya...